Industri Nikel Menghilangkan Sumber Penghasilan Warga Kabaena

Nelayan menggantung jaringnya dan petani tak lagi memanen rumput laut, satu persatu beralih menjadi pekerja tambang nikel. Pergeseran mata pencaharian masyarakat pesisir adalah “keterpaksaan”. Sumber penghasilan mereka hilang akibat eksploitasi nikel di Pulau Kabaena. Lingkungan hidup yang tercemar dan rusak menjadi faktor utama masyarakat setempat harus mengganti mata pencahariannya.

Masyarakat Pulau Kabaena tak lagi bisa mengandalkan hasil laut dan perkebunan. Hasil penelusuran Satya Bumi menemukan, kualitas panen petani menurun karena kebun mereka tidak lagi produktif akibat debu pertambangan. Di sisi lain, tangkapan nelayan juga semakin sulit karena air laut tercemar. Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh, membutuhkan solar lebih banyak, dengan hasil tangkapan yang tetap sedikit. 

“Namun kini kondisinya jauh berbeda, sekali melaut nelayan hanya mampu menangkap 1 hingga 3 ekor gurita, atau sekitar 1 hingga 2 kilogram, itu pun harus menempuh jarak yang lebih jauh. Harga jual pun sangat bergantung pada kualitas dan ukuran, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp50.000 per kilogram,” terang Bahar, nelayan gurita dari suku Bajau. 

Hak atas Lingkungan Hidup yang Baik

Industri nikel di Kabaena membawa dampak negatif bagi masyarakat setempat. Satya Bumi mengambil sampel urin Suku Bajau di Desa Baliara, hasilnya ditemukan banyak kandungan logam berat di dalam tubuh mereka. Kandungan logam berat ini akan berdampak akumulatif dan memicu berbagai penyakit di kemudian hari. 

Masyarakat kehilangan hak untuk hidup layak. Padahal, semuanya telah diatur dalam Pasal 28H UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Artinya, negara hukum ini gagal untuk dapat hadir melindungi dan memenuhi hak rakyatnya berkaitan dengan perusahaan tambang yang hidup bersisian dengan masyarakat Kabaena. 

Selain kandungan logam berat, wawancara Satya Bumi dengan 62 masyarakat desa kajian (Liwulompona, Kokoe, Talaga Besar, dan Wulu) menemukan ada 43,5% responden mengalami dampak kesehatan, seperti gangguan pernapasan dan penyakit kulit. Masyarakat yang hidup di dekat pertambangan mengeluhkan gangguan pernapasan akibat aktivitas pertambangan yang tidak jauh dari wilayah permukimannya. Sedangkan bagi masyarakat pesisir laut mengeluhkan adanya perubahan warna air laut dan gatal-gatal akibat kontak fisik dengan air laut saat panen rumput laut. 

Transisi energi yang tidak berkeadilan justru memberi permasalahan baru bagi masyarakat Kabaena. Kerusakan ekosistem di Kabaena akan mengganggu dinamika kehidupan hingga menghilangkan mata pencaharian masyarakat. Kini, Kabaena sudah mengalami guncangan terhadap keseimbangan ekosistemnya, dan pemerintah perlu mencabut semua izin tambang yang ada. Berbagai ulasan dan rekomendasi untuk perbaikan Pulau Kabaena dapat ditemukan di laporan Satya Bumi.

Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.