REPORT – Environmental Human Rights Defenders Situation in Indonesia 2025

Environmental Human Rights Defenders (EHRDs) are individuals or groups who peacefully work to protect and promote human rights related to a safe, clean, healthy, and sustainable environment. They are not limited to environmental activists, campaigners, or civil society organizations. EHRDs can be Indigenous Peoples, local communities, fishers, farmers, journalists, academics, students, or any individual acting in a personal or professional capacity to defend environmental rights, including those related to water, air, land, biodiversity, flora, and fauna.

Environmental Human Rights Defenders play a vital role in safeguarding human rights, protecting livelihoods, and ensuring environmental sustainability in Indonesia. Yet throughout 2025, they continued to face an increasingly challenging situation. Criminalization, intimidation, violence, and restrictions on civic space were reported across the country, revealing a significant gap between legal commitments to human rights protection and realities on the ground.

The report, Surging Threats, Diminishing Protection, was jointly prepared by Satya Bumi and Protection International to monitor and analyze the situation of Environmental Human Rights Defenders in Indonesia throughout 2025. The findings show a sharp increase in threats and attacks, rising from 33 documented cases in 2024 to 64 cases in 2025, affecting hundreds of individuals and communities.

This report highlights how these threats are closely linked to development policies that continue to prioritize investment and natural resource extraction, often at the expense of meaningful participation by Indigenous Peoples and local communities. As a result, Environmental Human Rights Defenders face growing legal, social, and physical risks while carrying out their work.

This publication aims to serve as a resource for civil society organizations, academics, journalists, law enforcement institutions, policymakers, and the wider public. By documenting patterns of attacks and emerging trends, the report seeks to contribute to stronger protection mechanisms for Environmental Human Rights Defenders and support policy reforms toward more just, accountable, and sustainable natural resource governance in Indonesia.

Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.