Di Balik Manisnya Gula-Gula PSN Merauke: Nestapa Ekologis dan Kisah Pahit Marga Kwipalo

Program Strategis Nasional (PSN) Merauke untuk pengembangan perkebunan tebu tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga mengancam hutan dan ruang hidup masyarakat adat. Di Kampung Blandin Kakayo, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Marga Kwipalo menghadapi pembukaan hutan di wilayah adat mereka tanpa pemberitahuan dan persetujuan. Pemantauan Satya Bumi menunjukkan bahwa hingga 1 Januari 2026, PT Murni Nusantara Mandiri (MNM) telah membuka hutan seluas 6.996,16 hektare, meningkat 61,9% dibandingkan Oktober 2025. Ekspansi PSN Merauke ini turut berdampak pada rawa, sungai, sumber pangan, dan habitat satwa yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat adat.

Di tengah ekspansi PSN Merauke, Marga Kwipalo memilih bertahan. Pemasangan Salib Merah menjadi simbol penolakan sekaligus penegasan bahwa wilayah tersebut bukan tanah kosong, melainkan tanah adat yang memiliki pemilik, sejarah, sumber penghidupan, dan nilai spiritual. Kisah Marga Kwipalo menunjukkan bahwa di balik agenda ketahanan pangan dan pembangunan perkebunan tebu, terdapat persoalan ekologis dan sosial yang perlu diperhatikan, mulai dari hilangnya hutan dan sumber pangan hingga pengabaian hak masyarakat adat untuk memberikan persetujuan atas pembangunan di wilayah leluhur mereka.

Artikel Lainnya

Share

Publications

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publications

Terbaru
Report

Annisa Rahmawati

Advisor

Annisa Rahmawati is a woman environmental activist. She started her career in 2008 as a Local Governance Advisor on a humanitarian program in Aceh - at EU-GTZ International Service which focused on peacekeeping and local government capacity building. Her experience in sustainable business comes from Fairtrade International as an assistant and at Greenpeace Southeast Asia as a Senior Forest Campaigner focusing on market campaigns for industrial commodities, especially deforestation-free palm oil from 2013-2020. In addition, Annisa also worked as a project assistant at UN-ESCAP Bangkok for sustainable urban development planning in 2012. Annisa has an educational background in Biology from Brawijaya University Malang and obtained a master's degree in International Management of Resources and Environment (IMRE) at TU Bergakademie Freiberg Germany with the support of the Heinrich Boell Stiftung Foundation. Annisa is enthusiastic and passionate about spreading messages and awareness to the world about environmental issues and how to find solutions to make businesses more responsible, as well as how we can act to deal with the climate crisis that we are currently facing.