PSN dan Mereka yang Kehilangan Hidupnya di Merauke

Program Strategis Nasional (PSN) Merauke membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat adat di Kampung Soa, Distrik Tanah Miring. Pembukaan hutan dalam skala besar untuk perkebunan tebu mengancam ruang hidup dan sumber pangan masyarakat. Sungai dan rawa yang selama ini menjadi sumber air, ikan, serta bagian penting dari tradisi pangkur sagu juga mengalami perubahan kualitas. Masyarakat kini menghadapi air yang keruh dan tercemar, berkurangnya sumber pangan, serta semakin jauhnya wilayah berburu. Di wilayah konsesi PT Global Papua Abadi (GPA), pemantauan Satya Bumi menggunakan citra satelit Sentinel-2 menunjukkan bahwa hingga 1 Januari 2026 telah terjadi pembukaan hutan seluas 8.646,94 hektare.

Kondisi tersebut memperlihatkan ironi di balik narasi ketahanan pangan dan energi nasional yang dibawa PSN Merauke. Bagi masyarakat adat Malind, pembangunan perkebunan tebu justru beriringan dengan hilangnya hutan, sumber pangan, kualitas air, dan ruang hidup yang diwariskan antargenerasi. Ketika masyarakat harus menempuh perjalanan hingga ke wilayah Papua Nugini untuk mencari hasil buruan yang semakin sulit ditemukan, muncul pertanyaan penting: ketahanan pangan PSN Merauke ini sebenarnya dibangun untuk siapa?

Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.