Program Strategis Nasional (PSN) Merauke membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat adat di Kampung Soa, Distrik Tanah Miring. Pembukaan hutan dalam skala besar untuk perkebunan tebu mengancam ruang hidup dan sumber pangan masyarakat. Sungai dan rawa yang selama ini menjadi sumber air, ikan, serta bagian penting dari tradisi pangkur sagu juga mengalami perubahan kualitas. Masyarakat kini menghadapi air yang keruh dan tercemar, berkurangnya sumber pangan, serta semakin jauhnya wilayah berburu. Di wilayah konsesi PT Global Papua Abadi (GPA), pemantauan Satya Bumi menggunakan citra satelit Sentinel-2 menunjukkan bahwa hingga 1 Januari 2026 telah terjadi pembukaan hutan seluas 8.646,94 hektare.
Kondisi tersebut memperlihatkan ironi di balik narasi ketahanan pangan dan energi nasional yang dibawa PSN Merauke. Bagi masyarakat adat Malind, pembangunan perkebunan tebu justru beriringan dengan hilangnya hutan, sumber pangan, kualitas air, dan ruang hidup yang diwariskan antargenerasi. Ketika masyarakat harus menempuh perjalanan hingga ke wilayah Papua Nugini untuk mencari hasil buruan yang semakin sulit ditemukan, muncul pertanyaan penting: ketahanan pangan PSN Merauke ini sebenarnya dibangun untuk siapa?