HUMAN RIGHTS AUDIT REPORT PSN MERAUKE – The Recurrence of Development Without Feelings

Behind the narrative of development and food security, the Merauke PSN has had serious consequences for the rights of Indigenous communities. The clearing of forests, wetlands, and savannas for rice-field and sugarcane development has transformed their living spaces and threatened access to land, customary territories, food, clean water, traditional livelihoods, and a safe and healthy environment. This audit documents alleged human rights violations arising from the implementation of the projects across Indigenous territories in Papua Selatan.

Prepared by PUSAKA Bentala Rakyat and Satya Bumi, the report examines the impacts of the PSN on rights to land and customary territories, food sources and traditional livelihoods, the environment, and the rights of Indigenous women. It also examines communities’ rights to consultation, participation, and Free, Prior and Informed Consent (FPIC). Beyond documenting what has been lost, this audit calls for remedy and a fundamental shift in development practices, so that state-led projects do not continue at the expense of Indigenous peoples and the living spaces they depend on.

Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.