Karhutla Bukan Hanya Membakar Pohon: Apa yang Terjadi Pada Satwa Liar?

Dalam beberapa waktu belakangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebar dari satu titik ke titik yang lain. Asap yang mengepul ke udara memberikan kesesakan terhadap pernafasan warga hingga membatasi jarak pandang dan aktivitas warga. 

 

Karhutla tidak hanya berdampak pada aktivitas warga maupun pohon yang dilahap habis dengan cepat oleh api. Ketika api masuk dan menyelimuti kawasan hutan, ada banyak hal yang terancam, seperti habitat satwa liar. termasuk tempat berlindung dan sumber makanan mereka. 

 

Bagi satwa liar, khususnya orang utan, hutan bukanlah sekadar pepohonan. Hutan ialah tempat bagi para satwa liar untuk melanjutkan kehidupannya, dimulai dari menyediakan makanan, tempat berlindung, serta ruang untuk bergerak. Oleh karena itu, ketika terjadi karhutla, ada banyak dampak yang harus ditanggung oleh semua makhluk hidup. 

 

Habitat Terbakar, Satwa Liar Terganggu

 

Karhutla dapat mengubah kondisi habitat secara langsung. Pohon-pohon yang sebelumnya menjadi sumber makanan dapat terbakar, sedangkan vegetasi yang tersisa membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk pulih. 

 

Sementara itu, asap yang terus menebal dapat mengganggu aktivitas satwa liar, seperti orang utan. Seluruh dampak karhutla tidak selesai sesaat setelah api dipadamkan. Asap karhutla yang berlangsung selama 2-3 bulan dapat berdampak terhadap sumber makanan orang utan seperti buah-buahan selama 6-7 bulan. 

 

Dampak asap juga dapat membuat orang utan mencari daerah yang minim akan asap. Hal tersebut mendorong mereka untuk keluar hutan dan masuk ke pemukiman atau daerah pertanian. Sejumlah kejadian masuknya orangutan ke pemukiman masyarakat akibat karhutla juga dilaporkan terjadi dalam beberapa waktu ini. Contohnya di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, di mana orangutan mencari perlindungan di area perkebunan warga.

 

Dari Jalur Gowes, Merekam Lanskap Sumatera 

 

Persoalan tersebut menjadi relevan dengan perjalanan Ekspedisi Hutan Merdeka. Lima pesepeda dari Komunitas Sepeda Chemonk bersama Satya Bumi menempuh lebih dari 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batang Toru. Sepanjang perjalanan, mereka tidak hanya melakukan aktivitas gowes, tetapi juga merekam lanskap Pulau Sumatra dan melihat kondisi lingkungan yang masih dapat dipertahankan maupun yang perlu diperbaiki 

 

Dalam perjalanan tersebut, tim menemukan persoalan lingkungan seperti karhutla, hilangnya tutupan hutan alami, dan meluasnya tanaman industri Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan hutan di Sumatra tidak berdiri sendiri. Berbagai tekanan terhadap bentang alam dapat memengaruhi ruang hidup manusia maupun satwa liar. 

 

Mencegah karhutla bukan sekadar menjaga agar pohon tidak terbakar. Mencegah karhutla berarti menjaga habitat, sumber makanan, keanekaragaman hayati, dan keberlangsungan kehidupan yang bergantung pada hutan.



Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.