Di Balik Karhutla, Keanekaragaman Hayati Indonesia Dipertaruhkan

Ketika hutan terbakar, yang lenyap bukan hanya kumpulan pohon-pohon semata. Di balik kepulan asap tebal di udara, terdapat habitat satwa yang rusak, satwa yang harus kehilangan ruang hidupnya. serta berbagai fungsi dan peran ekosistem yang ikut terganggu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan persoalan asap dan kualitas udara yang buruk, tetapi juga ancaman terhadap keanekaragaman hayati, terutama flora dan fauna di Indonesia. 

 

Ancaman tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah wilayah seperti di Kalimantan, Sumatera, dan Papua mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di samping faktor El Nino yang turut meningkatkan resiko atau ancaman, karhutla di Indonesia lebih dipengaruhi oleh tata kelola yang buruk. 

 

Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi. Sementara itu, Papua juga menunjukkan tingginya sumber asap yang menandakan bahwa persoalan karhutla tidak lagi hanya terkonsentrasi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai episentrum kebakaran.


Sumber: Nusantara Atlas

 

Nasib Keanekaragaman Hayati Yang Kian Diujung Tanduk

 

Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas dengan kekayaan flora dan fauna yang tinggi. Hutan hujan tropis, gambut, mangrove, dan berbagai ekosistem lainnya menjadi rumah bagi banyak spesies, termasuk satwa endemik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu, seperti Orangutan Kalimantan atau Cenderawasih di Papua. 

 

Akan tetapi, hutan di Indonesia terus mengalami tekanan. Tekanan tersebut bisa berupa deforestasi maupun hilangnya tutupan pohon. Seperti data deforestasi Hansen, pada periode 2021-2025, Indonesia kehilangan total 416.713,5 hektare tutupan pohon (tree cover loss).

 

Aktivitas ekstraktif seperti hilirisasi atau pertambangan juga turut meningkatkan tekanan yang turut mengubah ekosistem. Dalam situasi tertentu, perubahan tersebut juga dapat meningkatkan kerentanan hutan dan lahan terhadap kebakaran. Ketika api masuk ke dalam hutan, dampaknya dapat terjadi dalam banyak bentuk. Vegetasi terbakar, sumber makanan menghilang, dan habitat berbagai fauna rusak. 

 

Kemudian, satwa yang selamat dari kebakaran pun harus berpindah untuk mencari tempat berlindung dan makanan. Bagi ekosistem yang mengalami kebakaran berulang, kemampuan untuk memulihkan kembali fungsi ekologisnya juga dapat semakin menurun. 

 

Kerusakan tersebut kemudian berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Hutan menyediakan berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, air, hingga sumber penghidupan masyarakat. Hutan juga membantu menjaga tata air, menyimpan karbon, dan menjadi bagian penting dari keseimbangan ekologis. 

 

Oleh sebab itu, kita harus mengubah cara pandang dalam melihat fenomena karhutla yang hanya menghitung jumlah luas lahan yang terbakar atau jumlah sebaran titik api. Ketika karhutla semakin sering terjadi dan intens, ada kehidupan yang ikut terdampak dan biodiversitas yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih. 

 

COP 17 CBD: Menyuarakan Yang Tak Terlihat

 

Persoalan tersebut membuat perlindungan hutan dan biodiversitas menjadi bagian penting dalam pembicaraan global. Bagi Indonesia sebagai negara megabiodiversitas, menjaga hutan berarti juga menjaga flora, fauna, ekosistem, dan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada keberadaan ekosistem tersebut. 

 

Pembicaraan mengenai hal itu akan menjadi bagian dari agenda COP17 CBD yang berlangsung di Yerevan, Armenia, pada 19–30 Oktober 2026. Forum ini menjadi momentum bagi negara-negara untuk duduk bersama dan meninjau kemajuan dalam menjalankan komitmen global perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversitas). 

 

Bagi Indonesia, momentum tersebut penting untuk melihat kembali bagaimana perlindungan biodiversitas diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Sebab, menjaga keanekaragaman hayati tidak hanya berarti menyelamatkan spesies yang terancam, tetapi juga memastikan hutan tetap menjadi ruang hidup bagi berbagai flora dan fauna serta mampu menopang kehidupan manusia.

Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.