Konferensi Dunia dalam Upaya Menjaga Keanekaragaman Hayati di Tengah Krisis Ekologis

Biodiversitas atau sering disebut juga keanekaragaman hayati bukanlah sesuatu yang berjarak atau jauh dari kehidupan kita. Pangan yang kita konsumsi, air yang kita gunakan setiap saat, udara yang kita hirup, hingga sumber penghidupan kita sangat bergantung pada ekosistem yang sehat. Ketika satu bagian dari ekosistem mengalami kerusakan, dampaknya akan memengaruhi kehidupan sekitarnya. 

 

Keanekaragaman hayati mencakup keberagaman makhluk hidup, mulai dari flora dan fauna hingga mikroorganisme. Hutan, laut, mangrove, dan gambut memiliki fungsi yang saling berkaitan. Jika ada kerusakan yang dilakukan oleh manusia, seperti aktivitas pertambangan atau deforestasi, maka itu tidak hanya mengganggu habitat atau hilangnya spesies tertentu, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekologis dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya. 

 

Di tengah krisis ekologis yang semakin di depan mata, kekayaan biodiversitas terus berkurang, baik dalam skala global maupun di Indonesia. Oleh karena itu, untuk menjaga keanekaragaman hayati (biodiversitas) serta memulihkan lingkungan diperlukan kerja sama global sekaligus komitmen nyata dari setiap pemangku kepentingan. 

 

Dalam konteks global, perlindungan biodiversitas dibahas melalui Convention on Biological Diversity (CBD). Dalam forum tersebut, terdapat 196 negara/pihak yang hadir. Setiap negara yang menjadi pihak dalam konvensi ini berkumpul dalam Conference of the Parties (COP) untuk membahas upaya konservasi keanekaragaman hayati, pemanfaatannya secara berkelanjutan, serta pembagian manfaat yang adil dari sumber daya genetik.

 

COP17 CBD menjadi salah satu forum penting dalam membahas keberlanjutan upaya tersebut. Tahun ini, COP17 CBD akan diselenggarakan di Yerevan, Armenia, pada 19–30 Oktober 2026. 

 

Pertemuan tersebut menjadi penting karena untuk pertama kalinya negara-negara akan melakukan peninjauan global terhadap kemajuan kolektif dalam menjalankan Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KMGBF). Kerangka ini menjadi acuan bersama untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan biodiversitas serta mencapai berbagai target perlindungan keanekaragaman hayati pada 2030. 

 

COP17 CBD bukan hanya menjadi ruang untuk menghasilkan komitmen baru. Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk melihat sejauh mana komitmen yang telah dibuat benar-benar dijalankan, apa saja kesenjangan yang masih ada, dan langkah apa yang perlu dipercepat untuk mencapai target 2030. 

 

Ancaman Terhadap Biodiversitas di Indonesia 

 

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki beragam ekosistem, dari hutan hujan, gambut, mangrove, hingga kekayaan di laut.

 

Keberagaman tersebut menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna, termasuk spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Kekayaan biodiversitas tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem di Indonesia. 

 

Akan tetapi, limpahan kekayaan tersebut tidak benar-benar dijaga secara optimal. Alih fungsi lahan yang berujung pada deforestasi, pembangunan yang tidak berkeadilan dan berkelanjutan, hingga praktik ekstraktif lainnya turut merusak dan memperburuk kondisi ekosistem yang ada. 

 

Rusaknya ekosistem dapat memengaruhi sumber pangan, air, mata pencaharian, serta ruang hidup masyarakat. Krisis biodiversitas pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi. Karena itu, upaya konservasi biodiversitas perlu melihat keterkaitan antara ekosistem dan kehidupan manusia.

 

COP17 CBD menjadi salah satu ruang penting untuk membicarakan persoalan tersebut. Di tengah tekanan terhadap biodiversitas yang terus meningkat, perlindungan keanekaragaman hayati tidak dapat hanya berhenti pada target dan komitmen. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana komitmen tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk menjaga ekosistem, flora dan fauna, serta kehidupan yang bergantung padanya.



Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.