Satya Bumi: Kabaena di Ambang Kehancuran Ekologis

Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara, mengalami gangguan ekologis akibat pertambangan nikel yang digemborkan dapat mendukung upaya transisi energi. Alih-alih menghadirkan keberlanjutan, eksploitasi nikel di Pulau Kabaena justru mengganggu keseimbangan ekosistem. 

Laporan Satya Bumi mengungkapkan eksploitasi masif pertambangan nikel di Kabaena memantik kerusakan lingkungan. Penurunan kualitas ekosistem pesisir diakibatkan oleh sedimentasi tambang nikel terjadi dan mengubah warna laut menjadi merah. Pembukaan lahan yang masif pada pulau kecil ini menimbulkan penyusutan vegetasi yang menutupi lahan sehingga meningkatkan limpasan permukaan (surface runoff) dan mempercepat proses erosi tanah. 

Selama aktivitas pertambangan PT Arga Morini Indah (PT AMI) dan PT Arga Morini Indotama (PT AMINDO) berlangsung, keduanya telah membuka lahan seluas 661,939 hektar. Ekspansi lahan sebagian besar dilakukan di kawasan dengan tingkat kemiringan tinggi dan memiliki potensi erosi dari sedang hingga berat. Kawasan sekitar ekspansi tersebut menyebabkan lahan menjadi tidak produktif, dimana kebun jambu mete warga menjadi tidak subur. 

Di samping isu lahan, pencemaran air laut juga terjadi di wilayah pesisir Kabaena. Air laut yang sebelumnya biru menjadi merah akibat sedimentasi. Permasalahan ini berdampak pada penurunan produktivitas budidaya rumput laut, berkurangnya sumber pangan masyarakat, hingga “penghapusan” mata pencaharian masyarakat pesisir Kabaena. Dampak lebih jauhnya, Suku Bajau, sebagai suku nomaden laut terakhir dipaksa kehilangan budaya melaut mereka.

Tambang Nikel Mengancam Keberadaan Satwa Langka 

Ekosistem laut Kabaena adalah habitat salah satwa langka, penyu terbesar di dunia yaitu penyu belimbing. Berdasarkan data IUCN, penyu belimbing berstatus terancam punah dan masuk ke dalam Red List. Wilayah perairan Kabaena sebelumnya menjadi jalur migrasi satwa penyu belimbing. Namun, dengan tercemarnya perairan Kabaena, siklus kehidupan satwa ini terganggu hingga dapat berakibat pada kepunahan satwa.

Pergeseran ekosistem darat Kabaena juga telah mengancam eksistensi monyet ekor panjang. Berdasarkan data IUCN, spesies monyet ekor panjang sudah terancam punah dan lokasi terakhir huniannya terletak di Pulau Sulawesi. Keterbatasan ruang hidup bagi monyet ekor panjang akan mengganggu ekosistem kehidupannya dan dapat menyebabkan kepunahan. Masyarakat Kokoe juga mengungkapkan bahwa mereka sudah jarang melihat monyet dalam 20 tahun terakhir.

Kerentanan ekosistem pulau kecil menjadi salah satu faktor adanya lLarangan aktivitas tambang yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU PWP3K). Kemudian, dipertegas kembali dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PPU-XXI/2023 yang menjelaskan bahwa pengelolaan pulau-pulau kecil tidak diperuntukkan untuk kegiatan pertambangan.

Artikel Lainnya

Share

Publications

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publications

Terbaru
Report

Annisa Rahmawati

Advisor

Annisa Rahmawati is a woman environmental activist. She started her career in 2008 as a Local Governance Advisor on a humanitarian program in Aceh - at EU-GTZ International Service which focused on peacekeeping and local government capacity building. Her experience in sustainable business comes from Fairtrade International as an assistant and at Greenpeace Southeast Asia as a Senior Forest Campaigner focusing on market campaigns for industrial commodities, especially deforestation-free palm oil from 2013-2020. In addition, Annisa also worked as a project assistant at UN-ESCAP Bangkok for sustainable urban development planning in 2012. Annisa has an educational background in Biology from Brawijaya University Malang and obtained a master's degree in International Management of Resources and Environment (IMRE) at TU Bergakademie Freiberg Germany with the support of the Heinrich Boell Stiftung Foundation. Annisa is enthusiastic and passionate about spreading messages and awareness to the world about environmental issues and how to find solutions to make businesses more responsible, as well as how we can act to deal with the climate crisis that we are currently facing.