LAPORAN – Pemain Energi Kotor di Transisi Bersih: Analisis Individu Berpengaruh dalam Bisnis-Bisnis Energi Terbarukan

Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan ambisius dalam pidatonya pada forum sidang umum PBB. Prabowo menekankan memenuhi Perjanjian Paris 2015 dan target emisi net-zero paling lambat pada 2060. Serta tahun depan, sebagian besar kapasitas pembangkit listrik Indonesia tambahan akan menggunakan energi terbarukan.

 

Padahal, upaya transisi energi yang terus mengacu pada target bauran justru bermasalah dan jauh dari cita-cita hijau transisi energi. Koalisi Transisi Bersih, yang terdiri sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Satya Bumi, Trend Asia, Sawit Watch, SPKS, Greenpeace dan Walhi, menemukan, pendekatan transisi energi di Indonesia tidak mengarah pada transformasi sistem tata kelola energi, melainkan hanya pada pergantian teknologi. Pendekatan yang tidak transformatif, bertemu dengan biaya proyek yang tinggi dan kejar target bauran energi membuat transisi energi cenderung menguntungkan pemain lama yang masih aktif melakukan bisnis energi kotor.

 

Proses kotor dalam upaya transisi energi yang berulang juga terjadi salah satunya karena banyaknya ruang-ruang konflik kepentingan dan keterlibatan jejaring Politically Exposed Persons (PEPs). Koalisi Transisi Bersih menemukan setidaknya 28 individu yang memenuhi kriteria PEPs berdasarkan UNCAC dan Peraturan OJK 01/2017 di balik enam grup usaha bisnis energi. Jabatan individu dalam jejaring PEPs sangat strategis dalam upaya transisi energi, mereka adalah pemangku kepentingan di eksekutif, yudikatif dan aparat penegak hukum.

 

Memang tidak semuanya secara langsung terlibat dalam perumusan atau pengambilan keputusan yang mendukung bisnis energi. Bahkan sebagian besar ditempatkan di level perusahaan induk atau entitas strategis yang menaungi berbagai sektor bisnis, bukan semata di bidang energi terbarukan. Meski begitu, kehadiran PEPs di seluruh korporasi yang kami teliti ini menunjukkan risiko politik yang melekat dalam industri energi terbarukan di Indonesia.

Artikel Lainnya

Share

Publications

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publications

Terbaru
Report

Annisa Rahmawati

Advisor

Annisa Rahmawati is a woman environmental activist. She started her career in 2008 as a Local Governance Advisor on a humanitarian program in Aceh - at EU-GTZ International Service which focused on peacekeeping and local government capacity building. Her experience in sustainable business comes from Fairtrade International as an assistant and at Greenpeace Southeast Asia as a Senior Forest Campaigner focusing on market campaigns for industrial commodities, especially deforestation-free palm oil from 2013-2020. In addition, Annisa also worked as a project assistant at UN-ESCAP Bangkok for sustainable urban development planning in 2012. Annisa has an educational background in Biology from Brawijaya University Malang and obtained a master's degree in International Management of Resources and Environment (IMRE) at TU Bergakademie Freiberg Germany with the support of the Heinrich Boell Stiftung Foundation. Annisa is enthusiastic and passionate about spreading messages and awareness to the world about environmental issues and how to find solutions to make businesses more responsible, as well as how we can act to deal with the climate crisis that we are currently facing.