[Policy Brief] Dari Perubahan Tutupan Lahan Menuju Penyelamatan Ekosistem Batang Toru

Ekosistem Batang Toru merupakan kawasan hutan tropis yang memiliki nilai ekologis tinggi, terutama sebagai habitat utama Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang  terancam punah. Namun, kawasan ini menghadapi tekanan besar akibat ekspansi industri  ekstraktif, termasuk pertambangan, pembangunan PLTA Batang Toru, serta konversi lahan  untuk perkebunan. Fragmentasi habitat dan degradasi lingkungan menjadi ancaman nyata  yang semakin mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati. Meskipun terdapat berbagai  kebijakan konservasi di tingkat nasional dan daerah, implementasi regulasi yang lemah  membuat aktivitas industri tetap berlangsung, sehingga berdampak pada ekosistem dan  kehidupan masyarakat adat di sekitar Batang Toru.  

Analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan adanya penurunan luas hutan alami dan  peningkatan lahan terbuka atau non-vegetasi seluas 239,40 hektar atau sebesar 21,93% dari  tahun 2013 ke 2023. Data NDVI mengindikasikan bahwa meskipun terdapat peningkatan  tutupan vegetasi sedang-tinggi, sebagian besar merupakan perkebunan eukaliptus yang  bukan bagian dari hutan primer. Sementara itu, penurunan vegetasi alami terutama terjadi  di sekitar area pertambangan dan lokasi proyek PLTA. Hal ini membuktikan bahwa meskipun  ada regulasi yang mengatur perlindungan kawasan hutan, dalam praktiknya deforestasi dan  perubahan tutupan lahan masih terus berlangsung. Kebijakan yang ada belum mampu secara  efektif membatasi ekspansi industri yang merusak ekosistem.

Artikel Lainnya

Share

Publikasi

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publikasi

Terbaru
Laporan

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.