[POLICY BRIEF] Untung-Rugi EUDR: Menghitung Ekspor Hijau Indonesia ke Pasar Eropa

Untung-Rugi EUDR: Menghitung Ekspor Hijau Indonesia ke Pasar Eropa

The Costs and Benefits of the EUDR: Calculating Indonesia’s Green Exports to the European Market

 

Uni Eropa akan menerapkan EU Deforestation Regulation (EUDR) bagi perusahaan menengah dan besar serta usaha kecil dan mikro secara bertahap, namun penerapannya kembali ditunda satu tahun dan diperkirakan baru efektif pada awal 2027. Kebijakan ini berdampak signifikan bagi Indonesia karena mencakup komoditas utama ekspor seperti sawit, kopi, kakao, karet, kayu, kedelai, serta sapi dan turunannya. Pada 2024, nilai ekspor produk terkait EUDR Indonesia ke Uni Eropa mencapai Rp90,1 triliun atau sekitar 9% dari total ekspor global komoditas sejenis, sehingga berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi nasional maupun daerah yang bergantung pada ekspor tersebut.

Kajian Satya Bumi dengan model input-output menunjukkan ekspor Indonesia ke Uni Eropa berpotensi turun antara Rp2,4 triliun (skenario optimis) hingga Rp81 triliun (skenario pesimis), dengan skenario moderat sekitar Rp13,6 triliun. Dampak berantai dapat menekan output nasional hingga Rp203,8 triliun dalam skenario terburuk, menurunkan lapangan kerja sampai 820 ribu orang, serta mengurangi penerimaan pajak hingga Rp218 milyar dan nilai tambah bruto secara signifikan yaitu antara 0,02% hingga 0,64%. Sektor paling rentan adalah sawit, kopi, kakao, dan karet, dengan kerugian terbesar pada minyak nabati dan industri makanan. Secara wilayah, provinsi seperti Riau, Sumatera Utara, Lampung, Jawa Timur, dan DKI Jakarta diperkirakan terdampak paling berat, baik dari sisi output maupun penyerapan tenaga kerja.

 

The attached document is prepared in Bahasa Indonesia & English

Artikel Lainnya

Share

Publications

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publications

Terbaru
Report

Annisa Rahmawati

Advisor

Annisa Rahmawati is a woman environmental activist. She started her career in 2008 as a Local Governance Advisor on a humanitarian program in Aceh - at EU-GTZ International Service which focused on peacekeeping and local government capacity building. Her experience in sustainable business comes from Fairtrade International as an assistant and at Greenpeace Southeast Asia as a Senior Forest Campaigner focusing on market campaigns for industrial commodities, especially deforestation-free palm oil from 2013-2020. In addition, Annisa also worked as a project assistant at UN-ESCAP Bangkok for sustainable urban development planning in 2012. Annisa has an educational background in Biology from Brawijaya University Malang and obtained a master's degree in International Management of Resources and Environment (IMRE) at TU Bergakademie Freiberg Germany with the support of the Heinrich Boell Stiftung Foundation. Annisa is enthusiastic and passionate about spreading messages and awareness to the world about environmental issues and how to find solutions to make businesses more responsible, as well as how we can act to deal with the climate crisis that we are currently facing.