Orangutan di Ambang Kepunahan: Ketika Hutan Terus Menyusut

Kematian orangutan tidak selalu terjadi karena perburuan atau konflik langsung dengan manusia. Pada September 2026, seekor orangutan bernama Sampurna ditemukan mati setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ketapang, Kalimantan Barat. Di akhir tahun 2025, satu individu Orangutan Tapanuli juga ditemukan mati akibat longsor di Sumatera. 

 

Kedua peristiwa tersebut menunjukan bagaimana bencana ekologis dan kerusakan ekosistem dapat membuat satwa semakin rentan, terutama ketika habitatnya atau ruang hidupnya terus menyusut. Hilangnya atau terfragmentasinya habitat orangutan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup mereka. Penelitian menunjukkan bahwa dari 2011 sampai 2023, habitat Orangutan Sumatera dan Tapanuli harus kehilangan hutan yang menjadi ruang hidupnya seluas 94.399 hektare. 

 

Di samping itu, deforestasi menjadi faktor dominan yang berkontribusi terhadap penurunan populasi orangutan, sekitar 76%. Sisanya dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti perburuan, konflik manusia-orangutan, perdagangan ilegal, dan konflik satwa-manusia. 

 

Dampaknya terlihat pada populasi ketiga spesies orangutan yang ada di Indonesia. Populasi orangutan Sumatera menurun sekitar 19,5% sejak data dasar 2016, atau sekitar 1,8% per tahun. Pada periode yang sama, populasi orangutan Kalimantan dilaporkan mengalami penurunan sekitar 2–3% per tahun. Sementara itu, orangutan Tapanuli mengalami penurunan 6,6%, dari 767 individu pada 2011 menjadi 716 individu pada 2023–belum dihitung dengan estimasi kematian 58 individu Orangutan Tapanuli pasca bencana banjir dan tanah longsor akhir tahun 2025.

 

Fragmentasi membuat persoalan tersebut semakin serius. Ketika hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, orangutan kehilangan ruang untuk mencari makan, berkembang biak, dan berpindah antarwilayah. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi orangutan Tapanuli yang memiliki populasi lebih sedikit dan habitat yang terbatas. 

 

Orangutan juga bukan sekadar penghuni hutan. Mereka berperan sebagai “petani hutan” dengan menyebarkan biji dari berbagai jenis buah yang mereka makan. Setelah dicerna, biji keluar bersama kotoran dan dapat tumbuh di tempat baru. Proses tersebut membantu regenerasi hutan sekaligus menjaga keberagaman jenis pohon.

 

Karhutla Semakin Memperbesar Ancaman Terhadap Habitat Orangutan


Pada periode Januari-Agustus 2026, berdasarkan data FIRMS (Fire Information for Resource Management System) terdapat 3.243 hotspot di dalam habitat Orangutan. Sebaran hotspot paling banyak terjadi di dalam habitat Orangutan Kalimantan dan paling banyak terjadi pada periode Agustus 2026—mencapai 2.564 hotspot. Karhutla semakin menambah tekanan terhadap habitat Orangutan yang telah terdegradasi dan terfragmentasi akibat deforestasi. Hilangnya tutupan hutan juga dapat meningkatkan kerentanan habitat terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau.

Membawa Persoalan Orangutan di Konferensi Biodiversitas Dunia

Kondisi orangutan yang memprihatinkan saat ini menunjukkan bahwa konservasi tidak cukup hanya menyelamatkan hidup yang terluka atau memindahkan satwa dari lokasi yang berbahaya atau rusak. Ketika habitat terus hilang, upaya tersebut hanya menjadi respon terhadap dampak, bukan penyelesaian terhadap persoalan utamanya. 

 

Hal ini menjadi relevan dalam pembicaraan mengenai keanekaragaman hayati di COP17 CBD, yang akan berlangsung di Yerevan, Armenia, pada 19–30 Oktober 2026. Bagi Indonesia, perlindungan Orangutan dapat menjadi gambaran tentang pentingnya menjaga habitat dan ekosistem secara utuh, bukan hanya menyelamatkan spesies yang tersisa. Pendekatan ini sejalan dengan Target 4 KM-GBF, yang menekankan penghentian kepunahan akibat aktivitas manusia serta pemulihan dan konservasi spesies terancam, dan Target Nasional 1.3 IBSAP terkait perlindungan ekosistem, spesies, dan sumber daya genetik.

 

Terlebih, COP17 akan menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya para Parties melakukan global review terhadap kemajuan kolektif pelaksanaan KM-GBF. Dalam konteks ini, kondisi Orangutan dapat menjadi salah satu gambaran nyata tentang sejauh mana komitmen konservasi diterjemahkan menjadi perlindungan habitat yang efektif. 

 

Status perlindungan terhadap Orangutan masih lemah. Hal ini dapat dilihat dari sekitar 78% habitat Orangutan Kalimantan berada di luar kawasan konservasi, perlindungan orangutan membutuhkan upaya yang lebih luas dari sekadar kawasan konservasi. Begitu pula dengan habitat alami orangutan di Sumatera dan Tapanuli yang terus mengalami tekanan. 

 

Pada akhirnya, menyelamatkan orangutan berarti memastikan hutan tetap ada dan terhubung. Menyelamatkan orangutan berarti menjaga hutan tempat mereka hidup, mencari makan, berkembang biak, sekaligus menjalankan perannya dalam regenerasi hutan. Tanpa hutan yang sehat, keberlangsungan hidup orangutan dan berbagai kehidupan yang bergantung padanya ikut terancam.



 

Artikel Lainnya

Share

Publications

Satya Bumi menghadirkan berbagai publikasi yang fokus pada isu lingkungan dan sosial di Indonesia, dari perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal. Kami menulis artikel mengenai wawasan tentang bagaimana manusia dan alam saling terkait, sekaligus mendorong kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga bumi

Publications

Terbaru
Report

Annisa Rahmawati

Advisor

Annisa Rahmawati is a woman environmental activist. She started her career in 2008 as a Local Governance Advisor on a humanitarian program in Aceh - at EU-GTZ International Service which focused on peacekeeping and local government capacity building. Her experience in sustainable business comes from Fairtrade International as an assistant and at Greenpeace Southeast Asia as a Senior Forest Campaigner focusing on market campaigns for industrial commodities, especially deforestation-free palm oil from 2013-2020. In addition, Annisa also worked as a project assistant at UN-ESCAP Bangkok for sustainable urban development planning in 2012. Annisa has an educational background in Biology from Brawijaya University Malang and obtained a master's degree in International Management of Resources and Environment (IMRE) at TU Bergakademie Freiberg Germany with the support of the Heinrich Boell Stiftung Foundation. Annisa is enthusiastic and passionate about spreading messages and awareness to the world about environmental issues and how to find solutions to make businesses more responsible, as well as how we can act to deal with the climate crisis that we are currently facing.